Memahami Inflasi
Inflasi adalah peningkatan umum harga barang dan jasa dari waktu ke waktu, yang mengurangi daya beli uang. Jika inflasi 6% per tahun, barang yang Anda beli seharga Rp100.000 hari ini akan berharga Rp106.000 tahun depan.
Dampak Inflasi pada Tabungan
Jika Anda menyimpan Rp100 juta di bawah kasur selama 10 tahun dengan inflasi 6%:
- Nilai Nominal: Tetap Rp100 juta
- Daya Beli: Hanya setara Rp55,8 juta di nilai hari ini
- Kerugian Daya Beli: 44,2% atau Rp44,2 juta
Mengapa Anda Perlu Berinvestasi
Untuk mempertahankan daya beli, uang Anda harus tumbuh minimal setara dengan tingkat inflasi. Inilah mengapa penting untuk berinvestasi:
- Deposito (4-6%): Mungkin tidak mengalahkan inflasi
- Obligasi (6-9%): Sedikit di atas inflasi
- Reksa Dana Saham (10-15%): Berpotensi mengalahkan inflasi secara signifikan
- Properti (8-12%): Biasanya mengikuti atau mengalahkan inflasi
Inflasi di Indonesia
Tingkat inflasi Indonesia bervariasi dari tahun ke tahun, tetapi rata-rata historis sekitar 5-7% per tahun. Bank Indonesia menargetkan inflasi 2-4% untuk menjaga stabilitas ekonomi.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa yang menyebabkan inflasi?
Inflasi disebabkan oleh berbagai faktor: pertumbuhan jumlah uang beredar, peningkatan permintaan, biaya produksi yang naik, atau ekspektasi inflasi itu sendiri. Inflasi moderat (2-4%) sebenarnya sehat untuk ekonomi.
Bagaimana cara melindungi uang dari inflasi?
Investasikan di aset yang memberikan imbal hasil di atas inflasi: reksa dana saham, properti, emas, atau bisnis. Hindari menyimpan terlalu banyak uang tunai atau di rekening tabungan dengan bunga rendah.
Apa itu imbal hasil riil?
Imbal hasil riil adalah imbal hasil investasi dikurangi inflasi. Jika investasi Anda menghasilkan 12% dan inflasi 6%, imbal hasil riil Anda adalah 6%. Ini yang sebenarnya meningkatkan daya beli Anda.