Kalkulator Yield Sewa
Hitung yield sewa kotor dan bersih untuk mengevaluasi pengembalian investasi properti Anda
Rincian Pendapatan vs Pengeluaran
Benchmark Yield Sewa
- 3-4%: Tipikal untuk kota-kota besar Indonesia (Jakarta, Surabaya, Bandung)
- 4-5%: Yield bagus untuk properti residensial
- 5-7%: Sangat baik untuk residensial, rata-rata untuk komersial
- 7-10%: Yield properti komersial yang kuat
- Di atas 10%: Jarang, verifikasi lokasi dan kondisi properti
Memahami Yield Sewa: Panduan Lengkap untuk Investor Properti
Yield sewa adalah salah satu metrik paling kritis bagi investor properti yang mengevaluasi properti investasi. Ini mewakili pengembalian tahunan atas investasi dari pendapatan sewa sebagai persentase dari nilai properti.
Apa itu Yield Sewa?
Yield sewa mengukur berapa banyak pendapatan yang dihasilkan properti relatif terhadap harga belinya atau nilai pasar saat ini. Ini dinyatakan sebagai persentase tahunan dan datang dalam dua bentuk: yield sewa kotor dan yield sewa bersih.
Yield Sewa Kotor adalah perhitungan sederhana yang hanya mempertimbangkan pendapatan sewa tahunan dan nilai properti, mengabaikan semua biaya.
Yield Sewa Bersih adalah ukuran pengembalian yang sebenarnya, memperhitungkan semua biaya operasional termasuk PBB, perawatan, asuransi, iuran pengelola, dan periode kekosongan.
Cara Menghitung Yield Sewa
Rumus Yield Kotor:
Yield Kotor = (Pendapatan Sewa Tahunan / Nilai Properti) x 100
Rumus Yield Bersih:
Yield Bersih = ((Sewa Tahunan - Pengeluaran Tahunan) / Nilai Properti) x 100
Contoh Perhitungan: Misalkan properti senilai Rp500 juta menghasilkan sewa Rp2.500.000 per bulan. Biaya perawatan tahunan Rp3.000.000 dan PBB Rp1.000.000.
- Sewa Tahunan = Rp2.500.000 x 12 = Rp30.000.000
- Total Pengeluaran = Rp3.000.000 + Rp1.000.000 = Rp4.000.000
- Yield Kotor = (Rp30.000.000 / Rp500.000.000) x 100 = 6,00%
- Yield Bersih = ((Rp30.000.000 - Rp4.000.000) / Rp500.000.000) x 100 = 5,20%
Yield Sewa di Pasar Properti Indonesia
Lanskap yield sewa Indonesia bervariasi signifikan berdasarkan lokasi, jenis properti, dan kondisi pasar. Memahami pola ini membantu investor membuat keputusan yang tepat.
Yield Sewa Kota-Kota Besar
Kota metropolitan utama biasanya menunjukkan yield sewa lebih rendah karena harga properti tinggi relatif terhadap tarif sewa:
- Jakarta: 3,0-4,0% - Harga properti tinggi menurunkan yield
- Surabaya: 3,5-4,5% - Sedikit lebih baik dari Jakarta
- Bandung: 4,0-5,0% - Yield cukup kompetitif
- Bali (area wisata): 5,0-8,0% - Potensi sewa harian tinggi
- Yogyakarta: 4,0-6,0% - Area kampus memberikan permintaan stabil
Properti Komersial vs Residensial
Properti komersial umumnya memberikan yield sewa lebih tinggi dari residensial:
- Properti Residensial: 3,0-5,0% yield bersih
- Ruang Kantor Komersial: 6,0-9,0% yield bersih
- Ruko (Rumah Toko): 7,0-12,0% yield bersih di lokasi strategis
- Kost/Kontrakan: 6,0-10,0% di area kampus atau industri
Faktor yang Mempengaruhi Yield Sewa
Berbagai faktor mempengaruhi yield sewa, dan memahaminya membantu mengoptimalkan investasi Anda:
1. Lokasi dan Lingkungan
Properti dekat pusat kerja, institusi pendidikan, rumah sakit, dan simpul transportasi mendapat sewa lebih tinggi. Kawasan industri, kawasan kampus, dan pusat bisnis biasanya menawarkan premi sewa 20-40%.
2. Kondisi dan Usia Properti
Properti baru atau yang baru direnovasi menarik sewa lebih tinggi. Properti terawat baik bisa mendapat sewa 15-25% lebih tinggi dari unit serupa yang kurang terawat.
3. Status Furnishing
Properti semi-furnished dan fully-furnished menghasilkan pendapatan sewa 20-50% lebih tinggi dari unit unfurnished, meski investasi awal dan biaya perawatan meningkat proporsional.
4. Fasilitas dan Infrastruktur
Perumahan dengan fasilitas seperti gym, kolam renang, clubhouse, dan keamanan biasanya mendapat premi sewa 10-20%. Namun, iuran pengelola juga meningkat.
5. Tingkat Kekosongan
Setiap bulan kekosongan mengurangi yield tahunan sekitar 8,3%. Area dengan permintaan sewa kuat dan pergantian penyewa rendah memberikan pengembalian lebih stabil.
Cara Meningkatkan Yield Sewa Anda
Investor cerdas tidak hanya menghitung yield - mereka aktif bekerja untuk meningkatkannya:
Pemilihan Properti Strategis
- Riset Area Yield Tinggi: Fokus pada lokasi dengan rasio sewa-ke-harga tinggi, biasanya di area berkembang atau kota tingkat 2
- Target Demografi Penyewa: Properti dekat kawasan industri menarik pekerja; dekat kampus menarik permintaan konstan
- Pertimbangkan Investasi Komersial: Jika mampu harga masuk lebih tinggi, properti komersial menawarkan yield lebih baik
Optimalkan Fitur Properti
- Furnishing Cerdas: Semi-furnished (tempat tidur, AC, peralatan dapur) sering memberikan rasio yield-terhadap-investasi terbaik
- Dapur Modular: Dapur modular yang dirancang baik dapat meningkatkan sewa 8-15% dengan investasi moderat
- Cat Baru dan Perawatan: Pemeliharaan rutin mencegah perbaikan besar dan mempertahankan daya tarik sewa
Manajemen Penyewa Efektif
- Seleksi Penyewa Hati-hati: Penyewa stabil jangka panjang mengurangi biaya kekosongan dan pergantian
- Sewa Pasar Wajar: Jangan overprice dan menciptakan kekosongan; harga kompetitif memastikan okupansi berkelanjutan
- Hubungan Baik dengan Penyewa: Perawatan responsif dan perlakuan adil mendorong retensi penyewa
Yield Sewa vs Pengembalian Investasi Lain
Untuk membuat keputusan yang tepat, bandingkan yield sewa dengan opsi investasi alternatif:
- Deposito: 4,0-6,0% pengembalian tahunan - Lebih tinggi dari yield sewa tipikal namun tanpa apresiasi modal
- Reksa Dana Pendapatan Tetap: 6,0-8,0% - Likuiditas lebih baik dari properti, pengembalian serupa dengan yield komersial
- Reksa Dana Saham: 10-15% rata-rata jangka panjang - Pengembalian lebih tinggi namun volatilitas lebih besar
- Properti (Yield Sewa + Apresiasi): 4-5% yield + 5-8% apresiasi = 9-13% total pengembalian
Keunggulan properti terletak pada kombinasi yield sewa dengan apresiasi modal. Properti dengan 4% yield sewa plus 6% apresiasi tahunan memberikan 10% total pengembalian, kompetitif dengan pasar saham namun dengan volatilitas lebih rendah.
Kesalahan Umum yang Harus Dihindari
- Mengabaikan Pengeluaran: Menggunakan yield kotor alih-alih yield bersih secara dramatis melebih-lebihkan pengembalian
- Mengabaikan Kekosongan: Tidak memperhitungkan 1-2 bulan kekosongan tahunan menaikkan pendapatan yang diharapkan
- Meremehkan Perawatan: Properti lama memerlukan pemeliharaan lebih tinggi
- Melupakan Biaya Peluang: Bandingkan pengembalian dengan apa yang bisa dihasilkan modal yang diinvestasikan di tempat lain
- Keputusan Emosional: Membeli tempat yang Anda inginkan tinggali alih-alih yang disukai penyewa
- Mengabaikan Likuiditas: Properti tidak likuid; penjualan memakan waktu berbulan-bulan dan menimbulkan biaya transaksi signifikan