Kalkulator Penghematan Kendaraan Listrik

Bandingkan biaya kepemilikan kendaraan listrik vs bensin. Lihat penghematan bahan bakar, biaya perawatan, dan total biaya kepemilikan.

Analisis Penghematan EV

Info: Mobil listrik juga memiliki biaya perawatan lebih rendah karena tidak ada oli mesin, transmisi lebih sederhana.

Perbandingan Biaya Bahan Bakar

Panduan Penghematan Kendaraan Listrik di Indonesia

Kendaraan listrik (EV) semakin populer di Indonesia. Kalkulator ini membantu Anda menghitung potensi penghematan dibandingkan mobil bensin.

Keuntungan Kendaraan Listrik

  • Biaya Energi Lebih Murah: Listrik lebih murah dari bensin per kilometer
  • Perawatan Lebih Rendah: Tidak ada ganti oli, rem regeneratif mengurangi aus
  • Insentif Pemerintah: Bebas pajak dan berbagai subsidi
  • Ramah Lingkungan: Nol emisi langsung

Pertimbangan Sebelum Membeli EV

  • Infrastruktur charging di area Anda
  • Jarak tempuh harian vs range baterai
  • Harga beli yang masih lebih tinggi
  • Nilai jual kembali dan umur baterai

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Berapa penghematan biaya bahan bakar dengan EV?
Rata-rata 60-80% lebih hemat dibanding mobil bensin untuk biaya energi per kilometer.
Apakah EV cocok untuk Indonesia?
Semakin cocok dengan bertambahnya SPKLU (Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum), terutama untuk penggunaan dalam kota dan komuter. Kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya sudah memiliki ratusan titik charging.
Apakah charging di rumah lebih murah dari SPKLU?
Ya, jauh lebih murah. Charging di rumah biaya Rp1.000-1.500 per kWh (atau Rp600-900 dengan tarif malam), sementara SPKLU fast charging Rp2.000-3.500 per kWh. Charging di rumah bisa 50-70% lebih murah dari SPKLU.
Apakah mobil listrik biaya perawatannya lebih rendah?
Ya, EV memiliki biaya perawatan 40-60% lebih rendah. Tidak ada ganti oli mesin, rem regeneratif mengurangi aus kampas rem, dan komponen mekanis lebih sedikit. Item perawatan utama hanya ban, filter AC, dan minyak rem.
Berapa periode break-even untuk EV di Indonesia?
Periode break-even biasanya 4-8 tahun tergantung selisih harga EV, kebiasaan berkendara, dan harga bahan bakar. Pengguna yang berkendara 2.000+ km/bulan bisa break-even dalam 4-5 tahun. Untuk selisih harga Rp100 juta dengan penghematan Rp1,5 juta/bulan, break-even sekitar 5,5 tahun.